Selasa, 21 Februari 2012

Baru satu lompatan ternyata


Lupa tepatnya tanggal berapa saya melangkahkan kaki ke kampus ini. Setelah sebelumnya tes sana-sini berusaha mendapat peluang mengecap perguruan tinggi  negeri, karena jujur semenjak TK sampai SMA saya sama sekali tidak pernah merasakan pendidikan negeri. Tapi memang bukan tempatnya mungkin, akhirnya orang tua menyarankan tes di salah satu universitas swasta di Jakarta Pusat. Alhamdulillah di terima meski sedikit berat hati tapi ya memang disinilah tempatku..swasta lagi.

Fakultas kedokteran..itulah fakultas yang selalu saya pilih di semua tes yang saya ikuti. Meski orang tua sedikit ragu dengan pilihan ini “yakin bakal kuat kuliah di kedokteran?kamukan bosenan anaknya” “iya tenang mah, bakal rajin belajar kok kalo udah masuk mah”.

Meski hasil psikotes SMA sama sekali tidak menyarankan saya untuk memilih profesi sebagai dokter karena kemampuan diagnosis saya tidak begitu bagus, tapi saya tetep kekeuh pengen jadi dokter. “ya nantikan pas kuliah juga belajar bu, pasti bisalah diagnosis kalo rajin belajar mah”, sangkal saya pada guru BK yang saat itu sedang menjelaskan hasil psikotes saya di kantornya. 

Tahun 2008, lupa tepatnya tanggal berapa, menjadi anak baru yang cupu. Kostum item-putih-kerudung putih-sepatu hitam. Tiga S (senyum-salam-sapa) pada semua makhluk yang berada di kampus. Disuapi dengan ilmu-ilmu dasar kedokteran dari biokim, filsafat, etika, dll. Belajar beradaptasi sebagai makhuk baru yang bernama mahasiswa. Mengenal teman-teman baru dan mencari sahabat baru.

Melewati tiap detik-menit-jam-hari-minggu-bulan-tahun.
Melewati kuliah-praktikum-skills lab-PBL-pleno-ujian-heran-SP.
Melewati blok demi blok-semester demi semester.

Sampai akhirnya tibalah di penghujung semester 7. Semester terakhir di kampus ini. Ya inilah yang saya dan teman-teman seangkatan juga adik kelas nantikan dari perjuangan kami selama ini. Meski mencapai semester 7 itu baru diibaratkan sebagai loncatan pertama, Karena masih banyak batu lain yang harus terus saya loncati selanjutnya.

SARJANA. Tepat 14 Februari 2012. Kembali dengan kostum culun anak baru yaitu hitam-putih, saya dan teman-teman saya di baiat, di sumpah karena siap menyandang gelar S.Ked di belakang nama kami. Tapi entahlah, mungkin ada rasa bangga dan kepuasan atas jerih gigih usaha kami selama ini, tetapi bila di bandingkan dengan besarnya beban sumpah yang harus kami pikul rasanya enyaplah semua rasa bangga tersebut, enyaplah semua rasa puas tersebut terganti oleh rasa takut, takut akan tanggung jawab baru ini.

Tapi ini baru sarjana y, sedangkan sewaktu kecil dan anak-anak kecil lain impikan adalah menjadi dokter, bukan menjadi sarjana kedokteran. Lantas bagaimana?. Bila fakultas lain bisa langsung melamar kerja dengan ijazah sarjananya, saya pun bisa demikian tetapi saya ingin menjadi dokter. Maka saya harus kembali membuka buku-mengasah skills saya-mengunjungi rumah sakit-jaga malam alias memasuki dunia baru yang bernama koas selama 2 tahun. Saperti gelar S.Ked yang saya raih sampai jungkir balik selama 3.5 tahun di kampus ini Alhamdulillah  berjalan mulus, semoga dunia koas pun semakin mulus dan benar-benar bisa membentuk saya menjadi sosok yang saya impikan, dokter.

Sarjana belum ada apa-apanya teman, yuk kembali buka buku juga buka hati (maksudnya siapin mental ya, bukan hati untuk siap jatuh hati,hahahaha) karena di dunai koas tak hanya dosen (dalam koas sebutannya konsulen) yang akan memberiakan ilmunya tapi pasienlah yang akan sangat membantu mengisi ruang-ruang yang masih kosong atau mungkin retak di makan waktu dalam lobus-lobus otak kita.
S.Ked? ternyata belum seberapa..tapi isi sumpahnyalah yang ternyata berat..semangat teman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar